Wednesday, March 28, 2012

Stasiun Kereta Api eks Samarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) (1)

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa rekan dari Semarang berkesempatan “napak tilas” ke stasiun, dipo, dan rel di jalur mati suri kereta api lintas Demak-Ngaloran-Kudus-Pati-Juana-Kaliori-Rembang, Juana-Bulumanis-Tayu, Kudus-Mayong-Gotri, dan Rembang-Lasem-Mantingan-Blora-Jepon-Pasar Sore-Cepu Kota.


Di era Belanda, operator kereta api selain dari pemerintah, pihak swasta saat itu juga ikut ambil bagian menjadi operator, jadi seperti PO bus kalau saat ini. Lintas Semarang-Rembang dan lintas cabangnya kala itu dikelola oleh perusahaan swasta SJS (Samarang Joana Stoomtram Maatschappij) dengan stasiun sentralnya di Jurnatan (kawasan Johar) Semarang.

Ketika Indonesia merdeka dan terjadi nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda oleh pemerintah Republik Indonesia, maskapi SJS pun tak luput untuk dilebur dalam satu perusahaan kereta api milik pemerintah yakni DKA (Djawatan Kereta Api) yang kini bernama PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Seiring waktu dengan semakin pesatnya pembangunan jalan raya pamor angkutan kereta api Semarang-Rembang dan cabangnya semakin redup. Hal ini dikarenakan waktu tempuh kereta api kala itu yang lebih lama dan tidak secepat angkutan darat lain semisal bus. Dan di era tahun 80-an secara perlahan jalur kereta api eks SJS lintas Semarang-Rembang dan lintas cabangnya berhenti beroperasi. Dan untuk saat ini lintas tidak aktif Semarang-Rembang dan cabangnya berada dalam wilayah Daop 4 Semarang.

1. Demak
Stasiun Demak merupakan tujuan pertama kami pada hari itu. Akses untuk menuju ke lokasi sangat mudah karena lokasinya berada dalam kota. Dari jalan raya Semarang-Demak masuk kurang lebih 100 meter. Dari arah Semarang, pertigaan jalan masuk ke stasiun Demak terletak kurang lebih 200 meter sebelum terminal bus.



Stasiun Demak saat ini difungsikan sebagai kafe/rumah makan. Menurut pengelola kafe, mereka menggunakan stasiun Demak seijin dari PT. KAI dan dikenai biaya sewa. Bangunan stasiun Demak cukup megah dan mungkin di masanya stasiun ini merupakan salah satu stasiun besar. Menurut sejarah, stasiun Demak ini merupakan stasiun percabangan. Dari stasiun Demak bila ke timur menuju Kudus, ke barat menuju ke Semarang, dan ke selatan menuju Purwodadi. Kondisi bangunan stasiun saat ini di bagian dalam dan halaman dipakai untuk kafe. Sedangkan peron dan emplasemennya kurang terawat. Dan di emplasemen stasiun Demak rel kereta api sudah lenyap entah kemana.



Saat ini lingkungan di sekitar stasiun banyak ditempati oleh warga baik untuk tempat tinggal maupun untuk usaha. Di sisi timur stasiun Demak terdapat bangunan berupa gudang dan mungkin dahulu digunakan untuk bongkar muat kereta barang. Sekarang gudang tersebut dipakai oleh warga dan salah satunya untuk usaha isi ulang air minum.



Ketika perjalanan menuju tujuan berikutnya yakni Stasiun Ngaloran, kami berhenti sejenak saat melewati warung swikee bu Saipah karena melihat adanya rel kereta api yang melintang di dekat warung tersebut. Oleh tukang parkir yang berjaga di warung swikee kami ditunjukkan arah rel yang melintang tersebut. Penasaran dengan rel tersebut, kami kemudian menyusurinya dan ternyata rel tersebut panjangnya kurang lebih 15 meteran.
Saat menyusuri rel, kami juga menemukan satu buah patok kilometer yang saat ini berada di tepi jalan perkampungan. Asumsi saya, kemungkinan jalan perkampungan itu dahulu merupakan jalur rel kereta api Demak-Kudus atau setidaknya rel kereta api dan jalan kampung itu berimpitan. Di sekitar lokasi kami juga menemukan tiang telpon dari besi rel.




Akhirnya perjalanan kami lanjutkan kembali menuju stasiun Ngaloran. Letak stasiun Ngaloran mudah ditemui karena berada persis di tepi jalan raya pantura Semarang-Kudus. Dari arah Semarang berada di sisi kiri atau kalau dari arah Kudus berada di kanan jalan 3 kilometer sesudah pasar Gajah Demak.
Saat ini stasiun Ngaloran difungsikan sebagai tempat usaha penjualan genteng dan bambu. Kondisi stasiun masih terawat dengan baik dan tampaknya bagian depan yang tertutup sekarang ini dahulu merupakan bagian peron stasiun. Sedangkan sisa ornamen dan bangunan asli masih tampak terlihat jika kita masuk ke dalam stasiun.
Di sekitar stasiun kami menemukan rel kereta api yang digunakan sebagai “tulangan” jembatan oleh penduduk. Dari info ibu yang punya warung di samping stasiun Ngaloran, baik stasiun maupun petak yang digunakan untuk warung semuanya dikenai biaya sewa dari PT. KAI.



2.   Kudus-Mayong-Gotri
Tujuan kami berikutnya adalah ke Kudus. Kami menemukan patok rel dan rel yang membujur di tepi jalan raya Kudus-Mayong sebelum pasar Mayong. Dan kami juga menemukan rel kereta api yang masih utuh membujur di dalam kawasan pabrik keramik di Mayong.

Perjalanan berlanjut menuju stasiun Mayong. Stasiun Mayong terletak di dekat pasar Mayong. Bangunan stasiun Mayong sangat unik karena konstruksi dan material terbuat dari kayu jati. Namun saat ini bangunan stasiun Mayong telah dipindah ke sebuah resort mewah di kawasan Magelang. Sehingga kami di situ hanya bisa melihat sisa tempat bangunan stasiun itu dahulu berdiri atas petunjuk dari penarik becak yang mangkal di situ.

Dari Mayong, kami menuju ke Bakalan/Gotri. Sama seperti di wilayah Mayong, disini rel kereta api dan bangunan halte/stasiun juga sudah tidak ada. Dari petunjuk penarik becak yang mangkal, kami ditunjukkan posisi bangunan stasiun/halte Gotri. Dan menurut beliau dahulu jalur kereta api sampai di Pecangakan.


Tujuan berikutnya adalah stasiun Kudus. Ketika memasuki dalam kota, kami menemukan rel kereta api Kudus-Pati yang membujur di sepanjang tepi jalan raya kawasan Melati. Rel kereta api di kawasan ini masih utuh lengkap dengan bantalan besinya dan dari tepi jalan raya rel berbelok masuk ke dalam perkampungan. Dan di atas jalur rel kereta api kini ditempati oleh penduduk baik untuk rumah maupun tempat usaha. Stasiun Kudus terletak di kampung Wergu Kulon. Kalau dari arah Semarang  kita ikuti jalan yang menuju GOR Wergu dan posisi stasiun berada persis di tepi kanan jalan raya. Saat ini stasiun Kudus berubah fungsi menjadi pasar tradisional Wergu. Emplasemen dan peron stasiun kini dipenuhi lapak-lapak pedagang. Kantor kepala stasiun kini dipakai untuk kantor pengelola pasar. Ornamen bangunan masih utuh dan di stasiun Kudus ini masih terdapat wesel yang kini berkarat. Plang nama stasiun, nomor jalur masih tergantung hingga kini. Rel kereta api beberapa masih terlihat di emplasen stasiun terkubur bangunan-bangunan baru. Jika anda ingin melihat foto stasiun Kudus tahun 1936, anda dapat melihat di website kitlv.nl

Menurut salah seorang pengelola pasar, stasiun Kudus ini juga merupakan saksi sejarah terhadap upaya pembunuhan presiden dan wapres RI Soekarno-Hatta. Jika kita perhatikan kaca penutup atas stasiun bagian barat tampak berlubangan. Menurut bapak pengelola pasar, lobang-lobang itu merupakan terjangan peluru-peluru senapan tentara Belanda saat berusaha menyergap Soekarno-Hatta.
Ketika kereta masih beroperasi, stasiun Kudus merupakan stasiun percabangan. Kalau ke timur menuju Pati, ke barat menuju Demak, dan ke utara menuju Mayong. Pada masa jayanya stasiun ini salah satu stasiun besar dan dilengkapi dengan dipo lokomotif. Atas petunjuk pengelola pasar, kami ditunjukkan letak “garasi sepur” (dipo lokomotif). Saat ini dipo lokomotif Kudus beralih fungsi menjadi usaha laundry karpet, dan emplasemen dipo menjadi tempat parkir truk dan sekarang tidak banyak terlihat rel kereta api di sekitar dipo. Kalau melihat foto lama yang dipublikasikan di website website kitlv.nl tampak bangunan dipo tidak mengalami banyak perubahan struktur bangunan utamanya. Tandon air sampai kini masih tegak berdiri.




Berikutnya perjalanan berlanjut ke wilayah Pati.
 


2 comments:

  1. hallo mbk, saya sekarang sedang meneliti tentang kereta api semarang rembang, nama saya rosa
    kalo misal mau tanya2 bolehkah? saya pengen tau lebih dalam lagi
    boleh minta cpnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai...
      Maaf baru reply :)
      Bisa kontak via WA 08995777204

      Delete